Sosok Dua Legislator PALI, H Ubaidillah SH Dan Firdaus Hasbullah SH MH Dinilai Proaktif Memperjuangkan Kepentingan Masyarakat PALI.

Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)
muaraenimaktual.com.

Sekitar satu tahun, DPRD hasil pemilihan legislatif 2024 melaksanakan tugas-tugasnya mewakili masyarakat.

Masyarakat pun secara perlahan dan otomatis, mulai timbul rasa simpati terhadap figur-figur yang dianggap konsisten melakukan kinerja memperjuangkan aspirasi masyarakat secara umum. Bukan hanya sekedar sebagaimana istilah populer untuk lembaga ini dengan sebutan D3 atau “duduk, diam dan duit”.

Di tengah fluktuasi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif daerah. Opini publik di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) terhadap lembaga ini justru menarik.

Kecenderungan penilaian mengarah pada dua sosok anggota DPRD PALI, yakni H. Ubaidillah dan Firdaus Hasbullah, SH MH.

Persepsi masyarakat menguat memberikan pendapat positif terhadap dua figur ini sebagai legislator yang dipercaya, bukan semata karena jabatan politik, melainkan karena kehadiran dan kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat PALI.

Secara tegas dan fakta, penilaian masyarakat itu dilakukan rasional.

Timbulnya opini tersebut, di saat tingkat kepercayaan publik terhadap DPRD secara kelembagaan masih mengalami dinamika bahkan cenderung menurun.

Dari penilaian, dua figur ini justru konsisten mencuat dalam percakapan publik sebagai representasi wakil rakyat yang dianggap bekerja, responsif, dan mudah dijangkau.

Fenomena tersebut sejalan dengan hasil riset digital BungFKk Digital Analysis Research Centre (BDRC) yang dilansir KabarMegapolitan.com.

Riset ini merekam percakapan dan sentimen masyarakat yang berkembang di ruang-ruang publik—mulai dari lapangan, warung kopi, hingga media sosial tentang kinerja dan keberpihakan para legislator kepada masyarakat.

H. Ubaidillah, legislatif Kabupaten PALI dari politisi PAN tiga periode, dipersepsikan publik sebagai simbol konsistensi politik dan kesinambungan aspirasi.

Untuk sosok ini, tingkat kepercayaan publik dalam survei BDRC, diraihnya mencapai 9 persen, memperkuat pandangan bahwa pengalaman panjangnya di DPRD PALI masih relevan dan dibutuhkan.

Sosok yang akrab disapa Ubay ini dinilai mampu menjaga kesinambungan kepentingan masyarakat, terutama pada isu-isu yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Sementara itu, Firdaus Hasbullah, SH MH yang sebelumnya menggeluti dunia advokat ini, memperoleh tingkat kepercayaan 7 persen.

Ia dipersepsikan sebagai legislator yang aktif, komunikatif, serta memiliki kapasitas advokasi hukum dan politik yang kuat.

Di mata publik, pria yang populer dipanggil FH ini, kerap dilihat sebagai penggerak yang mampu membawa dan mengawal aspirasi masyarakat hingga ke ruang pengambilan keputusan.

Dari sinilah kemudian muncul istilah “duet” dalam percakapan publik.

Bukan dalam pengertian sensasional, melainkan sebagai simbol kolaborasi dua figur lintas partai yang sama-sama dipercaya masyarakat.

Kepercayaan tersebut tidak lahir secara instan dari hasil pemilu semata, melainkan dari relasi politik dan komunikasi yang terbangun secara berkelanjutan dengan warga.

Selain H. Ubaidillah dan Firdaus Hasbullah, survei BDRC juga mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap sejumlah legislator PALI lain, di antaranya Sarnubi (PKS) dan Budi Hoiru (PD) masing-masing 5 persen, disusul Maulani (Golkar) dan Agung Andriansyah (PDIP) dengan 4 persen.

Data ini menunjukkan bahwa publik semakin selektif dalam menilai figur legislator berdasarkan kinerja dan kedekatan dengan masyarakat.

Namun demikian, riset BDRC juga menyimpan pesan penting bagi DPRD PALI secara kelembagaan.

Tingkat kepercayaan publik terhadap institusi DPRD PALI masih berada di angka 44 persen.

Founder BDRC, Farkurohman, S.Sos., menegaskan bahwa kondisi ini merupakan tantangan serius bagi seluruh wakil rakyat untuk terus meningkatkan kinerjanya dalam menjalankan fungsinya.

“Ini menjadi tugas berat bagi wakil rakyat untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam mengemban dan memperjuangkan aspirasi secara kelembagaan,” ujarnya dikutip Kabar Megapolitan (20/01/2026).

Kondisi tersebut menegaskan bahwa menguatnya figur individual belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kepercayaan terhadap lembaga.

Pada titik inilah duet H Ubaidillah dan Firdaus Hasbullah menemukan relevansinya: bukan hanya sebagai simbol kepercayaan publik, tetapi juga sebagai modal sosial untuk mendorong penguatan kinerja DPRD PALI secara kolektif.

Pada akhirnya, kepercayaan publik bukan semata tentang siapa yang dipercaya, melainkan bagaimana kepercayaan itu dikelola dan diterjemahkan menjadi kerja nyata yang konsisten demi kepentingan masyarakat luas. (Red/teropongsumsel.com)