Gunung Megang – Muara Enim
muaraenimaktual.com
Desa Sidomulyo di Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, saat ini menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan program pemberdayaan masyarakat berbasis peternakan.
Sehingga Program ternak sapi “Berkah Lembu” yang dijalankan oleh warga Desa Sidomulyo menarik perhatian mahasiswa Universitas Sriwijaya, terutama Mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Masyarakat untuk melakukan observasi lapangan untuk melihat langsung pelaksanaannya serta dampak sosial dan ekonominya bagi warga desa.
Dari hasil wawancara media ini, kepada salah seorang anggota kelompok, Selamat, menjelaskan bahwa Program Berkah Lembu dimulai pada tahun 2023 sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, Rabu (05/11/2025).

Melalui bantuan ternak sapi
jenis Bali yang dibagikan kepada tiga kelompok masyarakat, program ini mendorong warga untuk belajar mengelola peternakan secara mandiri dan berkelanjutan.
Program ini juga melibatkan Pemerintah desa dengan menyediakan lahan bersama serta fasilitas air bersih untuk mendukung aktivitas peternakan.
Selamet mengatakan kalau program ini membawa perubahan besar dalam kehidupan warga.
“Dulu kami hanya mengandalkan hasil sawit dan padi. Sekarang, kami juga mendapat tambahan penghasilan dari ternak sapi dan pupuk organik yang kami buat sendiri,” ujarnya.
Dikatakan Selamet, melalui sistem bagi hasil, setiap anggota yang merawat sapi memperoleh hak atas anak
sapi yang dihasilkan.
“Sistem ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan semangat gotong royong di antara warga,” ujarnya.
Sementara itu, Peri Haten Mahasiswi Prodi pendidikan masyarakat Semester 5 Universitas Sriwijaya yang melakukan observasi menjelaskan hasil observasi menunjukkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga dari aspek pembelajaran sosial dan pemberdayaan warga.
” Dalam Program ternak sapi “Berkah Lembu” masyarakat belajar secara langsung mengenai pengelolaan ternak, pengolahan limbah menjadi pupuk organik, dan kerja sama kelompok,” kata Peri, Rabu (05/11/2025)
” Hal ini ini mencerminkan konsep Pendidikan Masyarakat, yaitu proses belajar berbasis pengalaman
dan kebutuhan nyata masyarakat,” imbuhnya
Lebih lanjut Peri memaparkan, pada Program ternak sapi “Berkah Lembu” selain mendapat dukungan pemerintah desa, keberhasilan program Berkah Lembu juga mendapat bantuan dari Pertamina Gas (Pertagas) Prabumulih, dengan memberikan pelatihan dan pendampingan teknis tentang pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik bernilai jual
tinggi.
” Kini, pupuk hasil olahan warga digunakan untuk lahan pertanian lokal dan mulai dipasarkan sebagai produk unggulan desa,” ungkap Peri.
Dikatakan Peri, meski memberikan banyak manfaat, program ini tetap memiliki tantangan seperti kurangnya peralatan pencacah rumput, keterampilan teknis yang belum merata, dan pencatatan administrasi kelompok yang perlu diperbaiki.
Ia menilai bahwa pelatihan berkelanjutan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci agar program
dapat terus berjalan secara mandiri.
Dari sisi lingkungan, kegiatan peternakan ini juga berdampak positif.
Limbah sapi yang diolah menjadi pupuk organik membantu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan menjaga kesuburan tanah.
Inovasi ini mendukung terciptanya sistem pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Program Berkah Lembu kini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Muara Enim untuk mengembangkan potensi lokal melalui pendekatan pendidikan masyarakat dan gotong royong.
Sebagai Mahasiswa Universitas Sriwijaya yang tengah menjalani pendidikan, menurut Peri Haten, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di tengah masyarakat melalui kegiatan nyata, diantaranya berusaha mengubah kebiasaan kehidupan warga yang kurang baik ke yang positif
Dengan kolaborasi antara warga, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta, Desa Sidomulyo membuktikan bahwa kemandirian masyarakat dapat dibangun dari bawah.
Dari kandang sapi, tumbuh semangat baru menuju desa yang mandiri, berdaya, dan sejahtera. Demikian Peri Haten. (Red)












